Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan

5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah Indonesia (Lengkap)

5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah di Indonesia (Lengkap) - Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) resmi berdiri tanggal 7 Agustus 1949. Akan tetapi, akar sejarahnya telah ada sejak zaman Jepang, pada saat datang keinginan untuk menciptakan negara berdasarkan Islam. Dewan Imamah (Penasihat) DI/TII adalah Soekarmadji Maridjan Kartosuwirjo.

Rongrongan atas keamanan dalam negeri juga dilakukan DI/TII. Pemberontakan DI/TII merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Pemberontakan DI/TII timbul di beberapa daerah di Indonesia, antara lain adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Aceh.

5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah Indonesia


1. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat


Gerakan DI/TII  di Jawa Barat tampak pada waktu terjadi penarikan pasukan TNI dari wilayah yang diduduki Belanda ke wilayah RI sebagai akibat perundingan Renville. Akan tetapi, anggota Hizbullah dan Sabilillah tidak mengikuti ketentuan perundingan Renville. kedua laskar itu berada di bawah pengaruh Seoekarmadji Maridjan Kartosuwirjo.

Semula Kartosuwirjo ikut bergerilya di daerah Jawa Barat. Ia ingin membentuk negara Islam lepas dari Republik Indonesia. Untuk itu ia menghimpun orang-orang yang setia kepadanya untuk masuk tentara Darul Islam. Pada tanggal 4 Agustus 1949 Kartosuwirjo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Tindakan Kartosuwirjo itu membahayakan persatuan dan kesatuan nasional. Rakyat pun sangat dirugikan karena Kartosuwirjo dan anggotanya melakukan teror, pembunuhan, pengrusakan, dan pengambilan harta kekayaan masyarakat secara paksa.

Penumpasan Gerakan DI/TII di Jawa Barat memakan waktu yang lama. Baru pada tahun 1960-an, Divisi Siliwangi mulai melancarkan operasi secara terstruktur dan besar-besaran. Dengan dibantu rakyat dalam operasi "Pagar Betis", pada saat tahun 1962 gerombolan DI/TII akhirnya bisa dihancurkan. Kartosuwirjo dapat ditangkap di Gunung Geber, ia kemudian di hukum mati.

2. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah


Perjuangan DI/TII memperoleh dukungan dari Jawa Tengah. Tokoh utamanya adalah Amir Fatah. Ia sebelumnya adalah pejuang dan komandan laskar Hizbullah. Selanjutnya ia berhasil mempengaruhi laskar Hizbullah yang ingin bergabung dengan TNI di Tegal.

Amir Fatah kemudian memproklamasikan diri dan bergabung dengan DI/TII Kartosuwirjo tanggal 23 Agustus 1949. Mereka membentuk pemerintah tandingan di daerahnya.

Gerakan yang sama juga ada di Kebumen. Pemimpinnya adalah Mohammad Mahfu'dh Abdulrachman atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Sumolangu. Gerakannya juga merupakan penerus DI/TII Kartosuwirjo dengan markas di Brebes dan Tegal. Pembelotan ini merupakan pukulan bagi TNI saat itu.

Pemerintah lalu membentuk pasukan Benteng Raiders untuk menghadapi gerakan tersebut. Denan pasukan ini, pemerintah menggelar operasi Gerakan Banteng Negara. Sisa-sisa gerakan DI/TII di Jawa Tengah kemudian berhasil dikalahkan oleh pemerintah melalui Operasi Guntur.

Pada mulanya gerakan DI/TII di Jawa Tengah sudah mulai terdesak oleh TNI. Namun, pada bulan Desember 1951 mereka menjadi kuat kembali karena mendapat pertolongan dari Batalyon 426. Batalyon 426 di daerah Kudus dan Magelang memberontak dan menggabungkan diri menjadi DI/TII.

Kekuatan Batalyon pemberontak ini dapat dihancurkan. Sisa-sisanya lari ke Jawa Barat berbagabung dengan DI/TII Kartosuwirjo.

Sementara itu, di daerah Merapi dan Merbabu terjadi kerusuhan oleh gerakan Merapi Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini dapat dihancurkan TNI pada bulan April 1952. Sisa-sisanya bergabung dengan DI/TII. Kekuatan DI/TII di daerah Jawa Tengah yang semula dapat dipatahkan justru menjadi kuat lagi karena bergabungnya sisa-sia Batalyon 426.

Untuk mengatasi pemberontakan itu, segera dibentuk pasukan Banteng Raiders. Pasukan itu selanjutnya mengadakan operasi kilat yang dinamakan Gerakan Banteng Negara (GBN). Pada tahun 1954, gerakan DI/TII di Jawa Tengah dapat dikalahkan setelah pusat kekuatan gerakan DI/TII di perbatasan Pekalongan-Banyumas dihancurkan.

3. Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan


Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dikobarkan oleh Ibnu Hadjar, seorang mantan Letnan Dua TNI. Ia memberontak dan menyatakan gerakannnya sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwirjo. Dengan pasukan yang bernama Kesatuan Rakyat yang Tertindas, Ibnu Hadjar menyerang berbagai pos kesatuan tentara di Kalimantan Selatan dan melakukan aksi pengacauan pada bulan Oktober 1950.

Pemerintah memberi kesempatan pada Ibnu Hadjar untuk menghentikan pemberontakannya secara damai. Ia pernah menyerahkan diri dengan pasukannya. Ia diterima kembali ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia. Tetapi, ia melarikan diri dan melanjutkan pemberontakan.

Pemerintah RI akhirnya mengambil tindakan tegas dan berani. Pada akhir tahun 1959, pasukan Ibnu Hadjar dapat dihancurkan. Ibnu Hadjar sendiri dapat ditangkap.

4. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan


Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar. Kahar Muzakar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang selama Perang Kemerdekaan ikut berjuang di Pulau Jawa.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Kahar Muzaka berpulang ke Sulawesi Selatan. Ia berhasil menghimpun dan memimpin laskar-laskar gerilya di Sulawesi Selatan. Laskar-laskar itu tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).

Pada tanggal 30 April 1950, Kahar Muzakar mengirim surat untuk pemerintah dan pimpinan APRIS. Ia meminta agar semua anggota KGGS dimasukkan dalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin. Permohonan itu ditolak karena hanya mereka yang lulus dalam penyaringan saja yang boleh diterima dalam APRIS.

Pemerintah mengambil kebikjasanaan untuk menyalurkan bekas gerilyawan ke dalam Korps Cadangan Nasional. Kahar Muzakar sendiri diberi pangkat Letnan Kolonel.

Pendekatan-pendekatan yang dilakukan pemerintah tampaknya membawa hasil. Akan tetapi, pada saat akan dilantik, Kahar Muzakar bersama anak buahna melarikan diri ke hutan dengan membawa berbagai peralatan yang diberikan.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Agustus 1951. Pada bulan Januari 1952, Kahar Muzakar menyatakan daerah Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Negara Islam Inedonesia di bawah pimpinan Kartosuwirjo.

Pemerintah memutuskan untuk mengambil tindakan tegas dan mulai melancarkan operasi militer. Operasi penumpasan pemberontakan Kahar Muzakar memakan waktu yang lama. Pada bulan Februari 1965, Kahar Muzakar tewas dalam suatu penyerbuan. Bulan Juli 1965, Gerungan (orang kedua setelah Kahar Muzakar) dapat ditangkap. Dengan demikian berakhirlah pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.

5. Pemberontakan DI/TII di Aceh


Pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh. Pemberontakan pecah karena kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dan perasaan kecewa diturunkannya kedudukan Aceh dari daerah istimewa menjadi karesidenan di bawah provinsi Sumatera Utara.

Semula Tengku Daud Beureueh adalah GUbernur Militer daerah Istimewa Aceh. Pada tahun 1950 kedudukan Aceh diturunkan dari provinsi menjadi karesidenan, Daud Beureueh tidak senang karena jabatannya diturunkan.

Pada tanggal 20 September 1953, Daud Beureueh mengeluarkan maklumat yang mengatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari NII di bawah Kartosuwirjo. Setelah itu, Tengku Daud Beureueh mengadakan gerakan dan mempengaruhi masyarkat melalui propaganda bernada negatif terhadap pemerintah RI.

Untuk menghadapi gerakan itu, pemerintah mengirim pasukan yang memiliki persenjataan lengkap. Setelah beberapa tahun dikepung, baru pada tanggal 21 Desember 1962 tercapailah Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh. Banyak dari gerombolan itu yang kembal ke panguan RI.

Dengan demikian, pemberontakan DI/TII di Aceh dapat diselesaikan dengan cara damai. Pemimpin dari gerakan ini pun setuju untuk kembali ke pangkuan RI. Parkarsa penyelesaian di Aceh tersebut dipimpin oleh Kolonel M. Jasin, Panglima Kodam I Iskandar Muda.

Baca juga: PKI Madiun 1948 (Sejarah, Tujuan, Latar Belakang, Penumpasan)

Demikianlah artikel kali ini tentang 5 Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah Indonesia (Lengkap). Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

PKI Madiun 1948 (Sejarah, Tujuan, Latar Belakang, Penumpasan)

PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun 1948 (Sejarah, Tujuan, Latar Belakang dan Penumpasan) - Pada kesempatan kali ini anekaremajaviral akan membahas tentang sejarah pemberontakan PKI Madiun, tujuan, latar belakang dan penumpasan PKI di Madiun.

Doktrin komunis adalah dengan merebut kekuasaan negara yang sah dengan cara apa pun dan bagaimanapun. Setiap cara yang ada akan digunakan oleh orang-orang komunis untuk mengembangkan ideologinya di Indonesia. Salah satu pemberontakan PKI di indonesia adalah di Madiun pada tahun 1948.

PKI Madiun 1948 (Sejarah, Tujuan, Latar Belakang, Penumpasan)


Pemberontakan PKI di Madiun


Pemberontakan PKI di Madiun terkait dengan jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin tahun 1948. Penyebab jatuhnya kabinet Amir disebabkan oleh kegagalannya pada Perundingan Renville yang amat sangat merugikan Indonesia. Untuk merebut kembali kedudukannya, pada tanggal 28 Juni 1948 Amir Syarifuddin melakukan pembentukan Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Front Demokrasi Rakyat (FDR) didukung oleh Pemuda Sosialis Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, PKI, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok ini antara lain sebagai berikut.

1) Melancarkan propaganda anti pemerintah.
2) Mengadakan pemogokan-pemogokan kerja bagi buruh di perusahaan misalnya di pabrik karung di Delenggu Klaten.
3) Melakukan pembunuhan-pembunuhan misalnya dalam bentrokan senjata yang terjadi di Solo tanggal 2 Juli 1948, Komandan Divisi LIV yaitu Kolonel Sutarto secara tiba-tiba terbunuh. Pada tanggal 13 September 1948 tokoh pejuang 1945, Dr. Moewardi diculik dan dibunuh.

Pada tanggal 11 Agustus 1948, Musso tiba dari Moskow. Amir dan Front Demokrasi Rakyat (FDR) segera bergabung dengan Musso. Untuk memperkuat organisasi, maka disusunlah doktrin bagi Partai Komunis Indonesia (PKI). Doktrin tersebut bernama Jalan Baru.

PKI banyak melakukan kekacauan, terutama di Surakarta. Oleh PKI daerah Surakarta dijadikan daerah yang kacau (Wildwest). Sedangkan di wilayah Madiun dijadikan PKI sebagai basis gerilya. Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya untuk meruntuhkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu yang bersamaan, gerakan PKI ini dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun.

Untuk menumpas pemberontakan PKI, pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer. Dalam hal ini peran Divisi Siliwangi cukup besar. Di samping itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk mengerahkan seluruh pasukannya menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Dengan dukungan rakyat di berbagai tempat, pada tanggal 30 September 1948, wilayah kota Madiun berhasil diambil alih kembali oleh tentara Republik. Pada akhirnya tokoh-tokoh PKI seperti Lukman dan DN Aidit melarikan diri ke Vietnam dan Cina. Sementara itu, tanggal 31 Oktober 1948 Musso tewas ditembak. Sekitar 300 (tiga ratus) orang ditangkap oleh pasukan Siliwangi pada tanggal 1 Desember 1948 di daerah Purwodadi, Jawa Tengah.

Dengan telah ditumpasnya pemberontakan PKI di Madiun, maka selamatlah bangsa dan negara Indonesia dari rongrongan dan ancaman dari kaum komunis yang bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Penumpasan pemberontakan PKI dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri tanpa bantuan siapa pun. Dalam kondisi bangsa yang begitu sulit, ternyata Republik Indonesia sanggup menumpas pemberontakan yang relatif besar oleh golongan komunis dalam waktu singkat.

Baca juga: 4 Jenis Kepercayaan Manusia Purba di Indonesia

Demikianlah artikel kali ini tentang PKI Madiun 1948 (Sejarah, Tujuan, Latar Belakang, Penumpasan). Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Sumber: LKS IPS Kelas IX

4 Jenis Kepercayaan Manusia Purba di Indonesia (Lengkap)

4 Jenis Kepercayaan Manusia Purba di Indonesia - Sebelum kita membahas lebih lanjut, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu manusia purba? Manusia purba adalah jenis manusia yang sudah hidup jauh sebelum mengenal tulisan.

Adapaun manusia purba ini juga memiliki kepercayaan yang sudah tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Hal ini terdapat pada aspek yang dikaitkan dengan kepercayaan berupa peninggalan-peninggalan megalitik.

Perlu Anda ketahui jika sistem kepercayaan manusia purba ini tidak muncul dengan sendirinya, namun terjadi karena proses dan tanda-tanda yang dilihat oleh manusia bahwa adanya kekuasaan dan kekuatan lain yang jauh lebih besar diluar batasan manusia. Hal berikut yang menjadi dasar kepercayaan-kepercayaan yang berkembang pada manusia purba.

Ada beberapa macam kepercayan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat purba di Indonesia yaitu : Animisme, Dinamisme, Totemisme dan Monoisme. Berikut ini adalah 4 jenis kepercayaan manusia purba di Indonesia.


Jenis Kepercayaan Manusia Purba di Indonesia



Kepercayaan Animisme


Animisme adalah kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang telah mati (meninggal dunia). Berdasarkan keyakinan ini, roh yang sudah meninggal akan terus mengawasi serta melindungi manusia tersebut. Namun juga sebaliknya, roh tersebut juga bisa menghukum anggota masyarakat yang melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan pada adat masyarakat.

Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin doa atau pemujaan terhadap arwah nenek moyang adalah orang yang paling tua (sesepuh) yang ada di masyarkaat sebagai ketua adat. Ketua adat sudah menguasai dan mengetahui adat nenek moyang mereka lebih dari masyarakat yang lain yang nantinya akan menjadi pemimpin setiap pemujaan masyarakat terhadap roh nenek moyang.

Kepercayaan Dinamisme


Dinamisme adalah kepercayaan manusia purba bahwa sebuah benda mempunyi kekuatan ghaib. Contohnya adalah keris, patung, tombak dan lain-lain. Menurut kepercayaan mereka dalam pembuatan benda-benda megalitik, seperti arca. menhir, dolmen, kubur peti batu, punden berundak, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi oleh keyakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan yang lain.

Kepercayaan Totemisme 


Totemisme adalah kepercayaan manusia purba terhadap hewan/binatang yang diaggap memiliki kekuatan yang kuat dan besar daripada manusia, seperti Gajah, Harimau, Badak, Singa dan lain sebagainya. Manusia purba tersebut menganggap jika binatang itu melindungi dan menjaga kehidupan mereka.

Hewan-hewan tersebut tidak boleh diburu ataupun dibunuh karena dianggap suci bagi mereka. Apabila ada yang berani melanggar maka hukuman dan kutukan yang akan diterima oleh seseorang itu.

Kepercayaan Monoisme


Monoisme adalah kepercayaan manusia purba terhadap Tuhan Yang Maha Esa, merupakan kepercayaan yang banyak di anut oleh masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Masyarakat itu percaya bahwa ada suatu kekuatan atau pemilik kekuasaan langit dan bumi.

Pola pikir masyarakat pun berubah, mereka sadar bahwa di balik indahnya alam semesta ada penciptanya. Kepercayaan monoisme saat ini bisa dikategorikan dalam beberapa agama seperti Islam, Kristen dan lain sebagainya.

Baca juga : Perbedaan Flora di Indonesia Bagian Barat dan Timur

Demikianlah artikel kali ini tentang 4 Jenis Kepercayaan Manusia Purba di Indonesia (Lengkap). Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dari saya dan terimakasih.

Referensi : http://indrasugiarto.com/macam-jenis-kepercayaan-manusia-purba-di-indonesia/
http://fullseoblog.blogspot.co.id/2013/11/jenis-jenis-kepercayaan-manusia-purba.html

Perbedaan Flora di Indonesia Bagian Barat dengan Timur (Lengkap)

Perbedaan Flora di Indonesia Bagian Barat dengan Timur (Lengkap) - Pada kesempatan kali ini anekaremajaviral akan membahas perbedaan flora indonesia bagian timur dan indonesia bagian barat. Adapaun yang kita bahas adalah mengenai karakteristiknya dan ciri-cirinya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita harus mengetahui dulu apa itu flora? Flora adalah segala jenis tumbuhan serta tanaman yang ada di muka bumi ini. Di negara kita ini, Indonesia memiliki berbagai jenis-jenis flora, baik dari bagian baratnya hingga ke bagian timur.

Kata flora berasal dari bahasa latin yaitu nama dewi pelindung bunga serta taman dan dewi kesuburan dalam mitologi Romawi.

Berikut ini adalah perbedaan flora di Indonesia bagian barat dengan indonesia bagian timur (Lengkap).

Perbedaan Flora di Indonesia Bagian Barat dengan Timur



Perbedaan Flora di Indonesia 


Karakteristik flora di Indonesia bagian timur dan Indonesia bagian barat juga memiliki perbedaan. Berikut ini adalah perbedaan karakteristik flora di Indonesia bagian timur dan Indonesia bagian barat.

Berdasarkan pendekatan biogeografi, kekayaan hayati Indonesia dibagi atas dua kelompok. yaitu Indo Malayan dan Indo Australian. Daerah peralihannya ditandai dengan garis Wallace dan garis Lydekker.

Kelompok Indo Malayan meliputi tanaman yang ada di Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Bali. Sedangkan kelompok Indo Australian meliputi tanaman yang ada di Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Berikut ini perbedaan karakteristik flora di Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian Timur :

Ciri-ciri Flora di Indonesia bagian barat :



  • Banyak terdapat jenis meranti-merantian
  • Memiliki berbagai jenis nangka
  • Memiliki jenis tumbuhan sagu yang sedikit
  • Tidak memiliki gutan kayu putih
  • Terdapat berbagai jenis rotan
  • Memiliki jenis tumbuhan matoa (pometia pinnata) yang sedikit.


Ciri-ciri Flora di Indonesia bagian timur : 



  • Memiliki jenis meranti-merantian sedikit
  • Tidak terdapat jenis nangka
  • Memilki banyak tumbuhan sagu
  • Terdapat hutan kayu putih
  • Tidak memiliki rotan
  • Memiliki berbagai jenis tumbuhan matoa (khususnya berada di Papua).

Baca juga : 3 Jenis Kegiatan Ekonomi (Distribusi, Produksi, Konsumsi)

Demikianlah artikel kali ini tentang Perbedaan Flora di Indonesia Bagian Barat dengan Timur (Lengkap). Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

3 Jenis Kegiatan Ekonomi (Produksi, Distribusi, Konsumsi) Lengkap

3 Jenis Kegiatan Ekonomi Beserta Contohnya - Kegiatan ekonomi memiliki 3 macam yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi. Tetapi, kegiatan ekonomi juga dapat terjadi secara langsung dari produksi ke konsumsi, contohnya adalah nelayan yang menangkap ikan untuk dikonsumsi sendiri.

Berikut ini adalah 3 Jenis Kegiatan Ekonomi (Produksi, Distribusi, Konsumsi) Beserta Contohnya.


3 Jenis Kegiatan Ekonomi (Produksi, Distribusi, Konsumsi)



1. Kegiatan Produksi


Kegiatan ini adalah kegiatan yang gunanya untuk menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Badan usaha atau orang yang melakukan kegiatan produksi disebut produsen. Produsen menghasilkan barang untuk dapat dijual agar dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan juga orang lain.

Selain itu, produsen juga dapat memperoleh keuntungan dengan menjual barang hasil produksinya kepada para pedagang.

Barang hasil produksi tersebut dibedakan menjadi barang antara dan barang akhir. Apa itu barang antara? Barang antara adalah barang yang digunakan untuk menghasilkan barang yang lain, contohnya seperti gandum, kain, dan benang. Sedangkan apa itu barang akhir? Barang akhir adalah barang yang siap dikonsumsi, contohnya adalah pakaian dan roti.

2. Kegiatan Distribusi


Kegiatan ini adalah kegiatan untuk penyaluran barang dari produsen ke konsumen. Barang-barang yang dibuat oleh produsen dapat sampai ke konsumen karena adanya disributor.

Tanpa adanya distributor, barang dari produsen tidak akan sampai ke konsumen yang jaraknya sangat jauh dari produsen. Produsen akan kesulitan untuk menjual barang, dan konsumen juga akan kesulitan untuk menemukan barang yang ingin dibeli.

Contoh kegiatan distribusi adalah ibu yang tinggal di Pekanbaru membeli beras Cianjur karena adanya distributor.

3. Kegiatan Konsumsi


Kegiatan konsumsi adalah kegiatan untuk menggunakan atau menghabiskan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut. Orang yang melakukan kegiatan konsumsi ini disebut konsumen. Barang atau jasa yang dikonsumsi disebut juga barang konsumsi.

Contoh dari kegiatan konsumsi yaitu, ibu membeli cabe di pasar, abang membeli baju di toko, dan ayah membeli motor.

Baca juga : Penyimpangan Sosial (Pengertian, Contoh, Bentuk, Jenis, Ciri, Penyebab, Pencegahan)

Demikianlah artikel kali ini tentang 3 Jenis Kegiatan Ekonomi (Produksi, Distribusi, Konsumsi) Beserta Contohnya. Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Sumber : Buku "Fun Learning Social Science 5" for Grade V Elementary School

Penyimpangan Sosial (Pengertian, Contoh, Bentuk, Jenis, Ciri, Penyebab, Pencegahan)

Penyimpangan Sosial (Pengertian, Contoh, Bentuk, Jenis, Ciri-ciri, Penyebab dan Pencegahan) - Pada kesempatan kali ini anekaremajaviral akan membagikan artikel tentang Penyimpangan Sosial.

Secara umum, perilaku menyimpang adalah sebuah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari pihak berwenang dalam sistem tersebut untuk memperbaiki perilaku menyimpang itu.

Akibat banyaknya pengangguran dan tingginya biaya hidup, mendorong seseorang melakukan berbagai jenis-jenis penyimpangan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa penyimpangan sosial telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Lalu apa pengertian penyimpangan sosial, contohnya, bentuknya, jenis, ciri-ciri, penyebab dan cara pencegahannya?

Berikut ini pengertian, contoh, bentuk, jenis, ciri-ciri, penyebab dan pencegahan penyimpangan sosial.
Penyimpangan Sosial



Pengertian Penyimpangan sosial Menurut Para Ahli


Berikut ini adalah beberapa definisi penyimpangan sosial yang menurut para ahli.


  • Bruce J. Cohen : Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
  • James Vander Zanden : Penyimpangan sosial adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tecela di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
  • Paul B. Horton : Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
  • Robert M.Z Lawang : Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
  • Ronald A. Hodert : Penyimpangan sosial adalah tindakan yang melanggar keinginan bersama karena tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat hingga bisa dikenai sanksi.
  • Becker : Penyimpangan sosial adalah perilaku menyimpang bukanlah kualitas yang dilakukan orang, melainkan konsekuensi dari adanya suatu peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap pelaku tindakan tersebut.

Jenis Penyimpangan Sosial


Jenis penyimpangan sosial berdasarkan kekerapannya



  1. Penyimpangan sosial primer : adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukannya masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya. Karena tidak terus menerus melanggar aturan, contohnya seperti melanggar rambu lalu lintas dan meminum-minuman keras.
  2. Penyimpangan sosial sekunder : adalah penyimpangan yang dilakukan oleh pelakunya secara terus-menerus walaupun telah diberikan sanksi-sankis. Oleh sebab itu, setiap pelaku secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Conohnya seperti seseorang yang setiap hari minum-minuman keras, siswa yang sering mencontek teman sekelasnya.


Jenis penyimpangan sosial berdasarkan jumlah orang yang terlibat



  1. Penyimpangan individu : adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa dengan orang lain. Hanya satu individu saja yang melakukan berlawanan dengan norma-norma yang berlaku.
  2. Penyimpangan kelompok : adalah penyimpangan yang terjadi jika individu tersebut melakukan secara bersama-sama disuatu kelompok tertentu.


Jenis penyimpangan sosial berdasarkan sifatnya



  1. Penyimpangan bersifat negatif : adalah penyimpangan sosial yang berwujud dari tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap tercela karena tidak sesuai dengan norma-norma yang ada.
  2. Penyimpangan bersifat positif : adalah penyimpangan sosial yang memiliki dampak yang positif terhadap sistem sosial karena dianggap ideal dalam masyarakat.


Contoh Penyimpangan Sosial


Tindakan Kriminal

Tindakan kriminal

Kriminalitas adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Semakin hari semakin meningkat, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya. Kriminalitas sebenarnya bukan semata-mata bawaan dari sejak lahir, melainkan bisa terjadi karena bersifat kondisional.

Kondisi yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal adalah :


  • Keadaan ekonomi yang tidak teratur
  • Tingginya angka pengangguran
  • Timbulnya kecemburuan sosial
  • Rasa ingin cepat menyelesaikan masalah


Tindakan kriminalitas pada individu dapat terjadi karena hal-hal berikut ini :

Alasan Psikologis

Penjahat seringkali melakukan aksinya karena didorong oleh keadaan bingung, putus asa, marah, dendam dan sebagainya. Secara biologis, pelaku kejahatan memiliki kesehatan yang prima.

Contoh : Seseorang yang bertubuh kecil ketika diejek terus menerus dapat melakukan tindakan pembunuhan terhadap lawannya yang bertubuh lebih besar. Kekuatan timbul karena motivasi yang timbul mendorong untuk melakukan kejahatan.

Alasan Biologis 

Kebutuhan untuk makan menjadi penyebab timbulnya dorongan untuk melakukan kejahatan. Mungkin alasan ini yang paling banyak dijumpai pada kasus-kasus kejahatan.

Contoh : Orang yang tidak makan dalam beberapa hari dapat mendorong dirinya untuk mencuri makanan milik orang lain.

Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja

Kenakalan remaja merupakan penyimpangan yang dialami para remaja atas norma yang ada. Perbuatan remaja tersebut merupakan tindakan anti sosial. Dalam usia yang menginjak pubertas, seringkali para remaja mencari jati dirinya, muncullah sifat sebagai jagoan, solidaritas sosial yang melewati batas, bahkan ingin eksistensi dirinya diketahui orang lain tetapi dengan tindakan yang menyimpang.

Para remaja seringkali membentuk sebuah kelompok (geng) yang menjadi kebanggannya. Perilaku menyimpang para remaja ini dapat berupa tawuran, mabuk-mabukkan, balap di jalanan, bertindak sesuka hatinya, dan lain sebagainya.

Kenakalan oleh remaja pada umumnya disebabkan oleh :


  • Lingkungan keluarga yang tidak harmonis
  • Kurangnya wadah untuk pengembangan diri
  • Situasi yang tidak menentu
  • Lingkungan masyarakat yang tidak sehat


Penyalahgunaan Narkotika


Narkotika dan obat-obatan yang terlarang sebenarnya adalah obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Apabila pemakaian obat ini sesuai dengan petunjuk dokter, maka tidak akan terjadi masalah.

Penyalahgunaan narkoba oleh sebagian anggota masyarakat cukup mengkhawatirkan. Bahkan, tidak sedikit anak-anak usia sekolah yang menjadi korban narkoba. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan kerugian bagi si pemakai maupun bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba digolongan sebagai bentuk perilaku yang menyimpang.

Penggunaan jarum suntik yang bersamaan dapat menularkan penyakit AIDS yang mematikan. Untuk itu jangan pernah sesekali mencoba/menggunakan narkoba.

Hubungan seksual sebelum menikah


Pelacur

Pelacur dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Pada umumnya terjadi di daerah perkotaan atau tempat-tempat yang mempunyai objek wisata. Faktor internal yang menyebabkan pelacur adalah sifat malas, ingin hidup enak tanpa usaha, rusaknya moral. Sedangkan faktor eksternal nya adalah faktor ekonomi dan urbanisasi yang tinggi.

Penyimpangan seks

Penyimpangan seksual dengan cara melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. Misalnya, seorang laki-laki dengan laki-laki yang disebut Homoseks, sedangkan seorang perempuan dengan permpuan disebut lesbian. Salah satu negara yang sudah mengakui perkawinan homoseksual adalah Belanda.

Bentuk Penyimpangan Sosial


Penyalahgunaan narkoba
Perkelahian antar pelajar
Penyimpangan Seksual
Tindakan kriminal atau kejahatan

Ciri-ciri Penyimpangan Sosial


Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memliki ciri-ciri sebagai berikut.

Penyimpangan harus didefinisikan

Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.

Penyimpangan bisa diterima bisa ditolak

Perilaku menyimpang tidak selamanya bersifat negatif, ada saatnya perilaku menyimpang bisa diterima oleh masyarakat, misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan perampokan merupakan penyimpangan sosial yang tidak bisa diterima di masyarakat/ditolak masyarakat.

Penyimpangan relatif dan mutlak

Setiap orang mungkin pernah  melakukan penyimpangan sosial, tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif bagi setiap orang. Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif. Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungan sekitarnya.

Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal

Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu memiliki kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan

Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan oleh orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka. Jadi norma-norma penghindaaran merupakan bentuk penyimpangan yang bersifat setengan melembaga.

Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial


Menurut Wilnes dalam bukunya "Punishment and Reformaton" sebab-sebab penyimpangan dibagi menjadi dua, yaitu.


  • Faktor subjektif : adalah faktor yang berasal dari diri seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir)
  • Faktor objektif : adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dengan anaknya yang tidak serasi.


Pencegahan Penyimpangan Sosial



  • Faktor keluarga : merupakan langkah awal dari proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang mulai terbentuk dengan bak jika lahir dan tumbuh berkembang dengan lingkungan keluarga yang baik, begitu juga sebaliknya.
  • Faktor sekolah : adalah tempat untuk menimba ilmu yang memberikan pendidikan moral selain  dari pendidikan umum.
  • Faktor lingkungan dan teman : adalah tempat yang sangat mempengaruhi watak seseorang karna dalam pergaulan seseorang dituntut agar dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya.
  • Faktor media massa :  adalah suatu wadah sosialisasi yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Maka setiap orang harus dapat memilih dan memilah media massa yang berisi informasi yang bermanfaat dan bersifat positif untuk terhindar dari penyimpangan sosial.


Baca juga : Pengertian Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi, dan Ruralisasi

Demikianlah artikel kali ini tentang Penyimpangan Sosial (Pengertian, Contoh, Bentuk, Jenis, Ciri, Penyebab, Pencegahan). Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Pengertian Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi, Ruralisasi

Selamat datang di blog anekaremajaviral, pada pembahasan kita kali ini, kami akan membagikan artikel yang membahas tentang Pengertian Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi, dan Ruralisasi.

Sebelum kami membahas artikel ini, sebaiknya kita mengetahui pengertian singkat dari Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi dan Ruralisasi.

Urbanisasi



  • Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.
  • Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari pulau yang padat/ramai ke daerah/pulau yang masih sepi/penduduknya jarang.
  • Imigrasi adalah perpindahan penduduk dari satu tempat/luar negeri ke dalam negeri tujuannya menetap. 
  • Sirkulasi adalah perpindahan penduduk tidak menetap, namun ada juga yang menetap atau tinggal sementara waktu di daerah tujuan.
  • Ruralisasi adalah kebalikan dari Urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa.


Berikut ini adalah Pengertian Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi, Rulalisasi.

Pengertian Urbanisasi


Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dan kota membuat peningkatan penduduk yang berasal dari kota menjadi sangat signifikan tanpa diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, perumahan, aparat penegak hukum, penyedian pangan dan lain sebagainya, hal ini tentunya menjadi suatu masalah yang harus diatasi dan dicarikan jalan keluarnya.

Perpindahan itu sendiri dikategorikan menjadi 2 macam, yakni migrasi penduduk dan mobilitas penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk menetap di kota, sedangkan Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara atau tidak menetap.

Contoh penduduk berasal dari desa yang pergi ke Jakarta.

Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk melakukan Urbanisasi, maupun dalam bentuk menarik atau faktor penarik. Dibawah ini adalah faktor pendorong dan penarik terjadinya Urbanisasi.



Faktor penarik


  1. Banyaknya lapangan pekerjaan di kota
  2. Sarana dan prasarana lebih lengkap 
  3. Kehidupan di kota lebih modern
  4. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi di kota lebih baik dan berkualitas.


Faktor pendorong


  1. Memiliki impian yang sangat kuat yaitu menjadi orang kaya
  2. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan yang bisa didapatkan di desa
  3. Lahan pertanian semakin kecil/sempit
  4. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
  5. Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada di desa
  6. Diusir dari desa asal tempat tinggal


Pengertian Transmigrasi


Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia. Penduduk yang melakukan transmigrasi disebut transmigran.

Tujuan transmigrasi adalah untuk memindahkan jutaan orang Indonesia dari pulai Jawa, Bali, dan Madura yang padat penduduknya ke pulau-pulau Indonesia yang penduduknya sedikit demi menciptakan kepadatan penduduk yang sama rata. Transmigrasi akan mengentaskan kemiskinan dengan memberikan lahan dan kesempatan baru bagi para pendatang.

Contoh penduduk dari pulau Jawa pindah ke pulau Papua.

Pengertian Imigrasi


Imigrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu negara-bangsa ke negara lain, di mana ia bukan merupakan warga negara. Imigrasi merujuk pada perpindahan untuk menetap permanen ke suatu negara lain yang di lakukan imigran, sedangkan turis dan pendatang untuk jangka waktu yang lumayan pendek tidak dianggap sebagai imigran.

Contoh orang Amerika yang ingin menetap ke Indonesia secara permanen.

Pengertian Emigrasi 


Emigrasi adalah tindakan meninggalkan negara asal seseorang atau wilayah untuk menetap di negara lain. Emigrasi sama seperti imigrasi tapi dari perspektif negara asal. Gerakan manusia sebelum pembentukan batas-batas politik atau dalam satu negara, disebut migrasi.

Beragam alasan orang untuk beremigrasi. Beberapa diantaranya adalah alasan agama, kebebasan politik atau ekonomi atau melarikan diri. Dan lainnya memiliki alasan pribadi seperti pernikahan. Beberapa orang yang tinggal di iklim dingin memilih untuk pindah ke iklim hangat.

Orang yang melakukan emigrasi disebut emigran. Contoh orang Indonesia pergi ke Amerika dan menjadi tenaga kerja Indonesia.

Pengertian Sirkulasi


Sirkulasi adalah perpindahan penduduk yang tidak menetap, namun ada juga yang menetap atau tinggal untuk sementara waktu di daerah tujuan.

Berdasarkan intesitas waktunya, sirkulasi dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu sirkulasi harian, sirkulasi mingguan, sirkulasi bulanan.


  1. Sirkulasi harian adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain yang dilakukan pada pagi hari dan kembali pada sore atau malam hari (ulang-alik tanpa menginap). Pelaku sirkulasi harian disebut dengan penglaju atau komuter.
  2. Sirkulasi mingguan adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain pada awal pekan dan akan kembali pada akhir pekan (ulang-alik dengan menginap).
  3. Sirkulasi bulanan adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain yang dilakukan sebulan sekali.


Pengertian Ruralisasi


Ruralisasi adalah kebalikan dari urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa. Ruralisasi pada umumnya dilakukan oleh orang yang dulu pernah melakukan urbanisasi, namun banyak juga pelaku ruralisasi merupakan orang kota asli.

Baca juga : Sejarah Pemberontakan PRRI dan Permesta di Indonesia

Demikianlah artikel kali ini tentang Pengertian Urbanisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Sirkulasi dan Ruralisasi. Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Referensi : https://id.wikipedia.org
http://www.berpendidikan.com/2015/06/pengertian-sirkulasi-urbanisasi-ruralisasi-transmigrasi-migrasi-internasional.html

Sumber gambar : www.kompasiana.com

Sejarah Pemberontakan PRRI dan Permesta di Indonesia

Sejarah Peristiwa Pemberontakan PRRI dan Permesta di Indonesia (Lengkap) - Pertentangan antara pemerintah pusat dan beberapa daerah lainnya yang berpokok pangkal pada masalah otonomi serta pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah makin hari makin kian meruncing. Pembentukan dewan-dewan seperti dibawah ini.

PRRI dan Permesta



  • Dewan Banteng
  • Dewan Gajah
  • Dewan Menghuni
pengambilan kekuasaan pemerintah setempat akhirnya pecah menjadi pemberontakan terbuka pada bulan Februari tahun 1958, yang dikenal sebagai pemberontakan "PRRI-Permesta".

Pemberontakan ini terjadi ditengah-tengah pergolakan politik di Ibukota (Jakarta). Ketidakstabilan pemerintah, masalah korupsi, perdebatan-perdebatan dalam konstituante, serta pertentangan dalam masyarakat mengenai Konsepsi Presiden.

Pada tanggal 9 Januari 1958 suatu pertemuan diselenggarakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, yang dihadiri oleh Letnan Kolonel Achmad Husein, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis. Sedangkan dari pihak sipil dihadiri antara lain adalah M. Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, dan Sjafruddin Prawinegara. Pada pertemuan tersebut dibicarakan mengenai pembentukan pemerintah baru serta hal-hal yang berhubungan dengan itu.

Keesokan harinya pada tanggal 10 Februari 1958 diadakan rapat besar-besaran di Padang, Sumatra Barat, Letnan Kolonel Husein dalam pidatonya di rapat raksasa itu memberi ultimatum kepada pemerintah pusat. Ultimatum tersebut menuntut :

  1. Dalam waktu 5x24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda.
  2. Presiden menugaskan Drs. Moh.Hatta dan Sultan Hamengkubowono IX untuk membentuk Zaken kabinet.
  3. Meminta kepada Presiden supaya kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden Konstitusional.

Sidang Dewan Menteri pada tanggal 11 Februari mengambil keputusan untuk menolak ultimatum tersebut dan memecat dengan tidak hormat Letnan Kolonel Achmad Husein, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dachlan Djambek, dan Kolonel Simbolon. Komando Daerah Militer Sumatra Tengah kemudian dibekukan dan ditempatkan langsung di bawah KSAD.

Pemberontakan tersebut mencapai puncaknya ketika pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein memaklumkan berdirinya "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" (PPRI) berikut dengan pembentukan kabinetnya dengan Sjafruddin Prawinegara sebagai Perdana Menteri.

Proklamasi PRRI segera mendapat sambutan di Indonesia bagian Timur. Pada tanggal 17 Februari 1958 Letnan Kolonel D.J Somba, Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah, menyatakan diri putus hubungan dengan pemerintah pusat dan mendukung sepenuhnya PRRI. Gerakan di Sulawesi ini dikenal dengan nama Permesta atau Gerakan Piagam Perjuangan Permesta.

Dengan diproklamasikannya PRRI di Sumatra yang diikuti oleh Permesta di Indonesia bagian Timur, Pemerintah memutuskan untuk tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut dan segera menyelesaikannya dengan kekuatan senjata.

Operasi Penumpasan PRRI


Untuk menumpas pemberontakan PRRI di Sumatra, segera disiapkan operasi gabungan yang terdiri dari unsur-unsur darat, laut, dan udara.

Pertama-tama dilancarkan Operasi Tegas dibawah pimpinan Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution untuk menguasai daerah Riau. Pertimbangannya adalah untuk mengamankan isntalasi-instalasi minyak asing di daerah tersebut dan untuk mencegah campur tangan asing dengan dalih menyelamatkan warga negara (WN) dan milinya. Kota Pekanbaru berhasil dikuasai pada tanggal 12 Mei 1958.

Untuk mengamankan daerah Sumatra Barat dilancarkan Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani. Pada tanggal 17 April di Padang dapat dikuasai oleh pasukan Angkatan Perang dan pada tanggal 4 Mei menyusul ke kota BukitTinggi.

Sementara itu di daerah Sumatra Utara dilancarkan Operasi Saptamarga di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Djatikusumo. Untuk daerah Sumatra Selatan dilancarkan Operasi Sadar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dr. Ibnu Sutowo.

Pimpinan PRRI akhirnya menyerah satu-persatu. Pada tanggal 29 Mei 1961 secara resmi Achmad Husein melaporkan diri dengan pasukannya, disusul oleh tokoh PRRI lainnya, baik militer maupun sipil.

Dalam usaha penumpasan PRRI, patut dicatat mereka yang berada di daerah-daerah pemberontakan tetap setia kepada pemerintah, kepada Saptamarga, dan Sumpah Prajurit, antara lain: Komisaris Polisi Kaharuddin, Dt Rangkarjo Basa dan Mayor Nurmathias di Sumatra Barat, Letnan Kolonel Djamin Ginting, dan Letnan Kolonel Waham Makmur di Sumatra Utara, Letnan Kolonel Harun Sobar di Sumatra Selatan.

Operasi Penumpasan Permesta


Untuk menumpas pemberontakan Permesta di Indonesia bagian timur di lancarkan sebuah operasi gabungan dengan nama Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letnan Kolonel Rukmito Hendradiningrat. Operasi terdiri dari beberapa bagian :

  1. Operasi Saptamarga I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soemarsono dengan daerah sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah.
  2. Operasi Saptamarga II di bawah pimpinan Letnan Kolonel Agus Prasmono dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan.
  3. Operasi Saptamarga III di bawah pimpinan Letnan Kolonel Magenda dengan daerah sasaran kepulauan sebelah utara Manado.
  4. Operasi Saptamarga IV di bawah pimpinan langsung Letnan Kolonel Rukmito Hendradiningrat dengan daerah sasaran Sulawesi Utara.
  5. Operasi Mena I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Pieters dengan daerah sasaran Jailolo.
  6. Operasi Mena II di bawah pimpinan Letnan Kolonel KKO Hunholz untuk merebut lapangan udara Morotai di sebelah utara Halmehara.

Sebelum operasi pokok dilancarkan, di Sulawesi Tengah telah bergerak kesatuan-kesatuan yang tergabung dalam Operasi Insyaf yang dikoordinasi oleh Komando antar daerah Indonesia bagian Timur (Koandait). Termasuk ke dalam operasi ini gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kesatuan-kesatuan yang setia kepada pemerintah yang dipimpin oleh Kapten Frans Karangan dan Kesatuan Polisi dibawah pimpinan Inspektur Polisi Suaeb. Operasi ini berhasil menguasai kota-kota Donggala dan Parigi, sedangkan kesatuan-kesatuan yang dipimpin oleh Nani Wartabone (Pasukan Rimba) berhasil menyiapkan pancangan kaki bagi pendaratan pasukan-pasukan Operasi Saptamarga II di Gorontalo.

Operasi-operasi militer APRI di Indonesia bagian Timur menghadapi perlawanan yang lebih berat dibandingkan dengan operasi di Sumatra karena situasi daerah yang menguntungkan pemberontak dan persenjataan mereka cukup kuat. Namun akhirnya perintah berhasil menguasai daerah-daerah tersebut. Pada pertengahan tahun 1961 sisa-sisa Permesta menyerahkan diri memenuhi seruan Pemerintah dan keamanan dipulihkan sepenuhnya.


Referensi : http://future404-azbunz.blogspot.co.id/2015/03/pemberontakan-prri-dan-permesta-lengkap.html

Keragaman Suku Bangsa di Indonesia (Nusantara)

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keragaman suku bangsa dan budaya. Keragaman ini tidak menyebabkan bangsa kita menjadi terpecah belah namun sebaliknya menjadikan bangsa Indonesia semakin kuat dan bersatu seperti semboyannya "Bhineka Tunggal Ika".



Keragaman Suku Bangsa

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan suku bangsa? Suku bangsa adalah bagian atau golongan dari suatu bangsa yang erat kaitannya dengan asal-usul, tempat asal, dan kebudayaannya. Suku bangsa juga dikenal dengan istilah etnik.

Anda pasti heran kenapa suku bangsa yang ada di Indonesia bisa beragam? Terdapat dua hal yang menyebabkan perbedaan suku bangsa tersebut yaitu lingkungan geografis dan induk suku bangsa.

1. Lingkungan Geografis

Indonesia memiliki keragaman lingkungan alam. Hal ini sangat memengaruhi corak kehidupan bangsa Indonesia, oleh karena itu banyak terdapat berbagai suku bangsa.

2. Induk Suku Bangsa

Induk suku bangsa di Indonesia berasal dari dataran Asia, seperti Ras Melayu dan Ras Melanosoid. Induk suku bangsa inilah yang kemudian melahirkan berbagai suku bangsa di Indonesia. Indonesia memiliki kurang lebih 414 suku bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Berikut ini adalah tabel persebaran suku bangsa di Indonesia.
Provinsi
Nama Suku bangsa
NAD
Aceh, Gayo, Tamiang Ulu Sangkil, Aneuk Jamee, Kluet, Gumbak Cadek, dan Simeulue
Sumatra Utara
Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, Nias, Simalungun, Cina, Arab, Asahan, Fak-Fak, dan Angkola.
Sumatra Barat
Minangkabau, Gusci, Caniago, Tanjung Kato, Panyali, Sikumbang, dan Mentawai
Riau
Sakai, Hutan, Talang Mamak, Melayu, Bunai, Kubu, Akit, dan Akai
Jambi
Kerinci, Penghulu, Melayu, Batin, Kubu, Pindah, dan Muko-muko
Bengkulu
Enggano, Rejang Lebong, Pasemah, Gumai, Kur, Serawi, dan Lembak
Sumatra Selatan
Komering, Palembang, Pasemah, Sameda, Ranau, Kisam, Ogan, Lematang, Rejang, Rawas, dan Kubu
Bangka Belitung
Bangka, Belitung, Mendanau, Rawas, dan Semendo
Lampung
Melayu, Pasemah, Pubian, Abung, Tulang Bawang, dan Sungkai
Banten
Baduy dan Sunda
Jawa Barat
Sunda
DKI Jakarta
Betawi, Cina, dan Arab
Jawa Tengah
Jawa, Samin, dan Karimun
Yogyakarta
Jawa, Cina, dan Arab
Jawa Timur
Madura, Jawa, Osing, dan Tengger
Kalimantan Barat
Dayak, Ngaju, Apo Kayan, Murut, Poanan, dan Ot Danun
Kalimantan Timur
Bulungan, Tidung, Kenyah, Berusuh, Abai, dan Kayan
Kalimantan Selatan
Banjar Hulu, dan Banjar Kuala
Kalimantan Tengah
Lawang, Dusun, Bakupai, dan Ngaju
Gorontalo
Gorontalo
NTB
Sasak, Sumbawa, Bima, Dompu, dan Dongo
NTT
Timor, Rote, Sabu, Flores, dan Sumba
Sulawesi Tengah
Kaali, Kuwali, Panuma, Mori, Balatar, dan Banggai
Sulawesi Tenggara
Wolia, Laki, Muna, Buton, Balatar, dan Banggai
Sulawesi Utara
Sangir, Talaud, Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Bantik
Sulawesi Selatan
Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Selayar, dan Bone
Bali
Bali Aga, dan Bali Majapahit
Maluku
Ambon, Alifuru, Togite, dan Faru
Maluku Utara
Ternate dan Obi
Papua
Asmat, Dani, Dera, Morwap, Manen, Molof, Tobati, Sentani, Senggi, Ketuk Gresi, Mooi, dan Kaure


Sumber : Buku "Fun Learning Social Science 5" for Grade V Elementary School.

Tokoh-Tokoh yang Berjuang Melawan Penjajahan Belanda

A. Pattimura

Pattimura
Image By : ruanasagita.blogspot.com
Pattimura pemimpin perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda pada tahun 1817. Di bawah pimpinan Pattimura, rakyat Maluku berhasil merebut Benteng Duursteede dan membunuh hampir semua penghuninya termasuk Residen Van den Berg. Pertempuran demi pertempuran terus berkobar dan kemenangan terus diraih pasukan Pattimura. Ternyata, perjuangan para pahlawan untuk mengusir para penjajah dari tanah air tidak pernah surut. Hal itu menunjukkan semangan nasionalisme yang tinggi terhadap bangsanya.

Untuk menghadapi perlawanan Pattimura, Belanda menggunakan taktik devide et impera (memecah belah). Belanda memperalat Raja Booi untuk mengetahui tempat persembunyian Pattimura. Pada 16 Desember 1817, Pattimura ditangkap dan dihukum mati.

B. Tuanku Imam Bonjol


Tuanku Imam Bonjol
Image By : www.kiblat.net
Tuanku Imam Bonjol dilahirkan dengan nama Peto Syarif. Beliau sangat gigih berjuang untuk memurnikan ajaran islam dari penyimpangan. Beliau memimpin rakyat Sumatera Barat untuk melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol bertempur melawan Belanda selama 15 tahun.

Pada tanggal 28 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol memenuhi undangan Residen Prancis untuk berunding di Palupuh. Namun, dalam pertemuan tersebut, Tuanku Imam Bonjol di tangkap Belanda. Beliau diasingkan ke Cianjur Jawa Barat, kemudian dipindahkan ke Ambon, lalu ke Manado. Beliau wafat di Manado pada 6 November 1864.

C. Pangeran Diponegoro


Pangeran Diponegoro
Image By : id.wikipedia.org
Antawirya atau Pangeran Diponegoro merupakan pemimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah Jawa Tengah. Pangeran Diponegoro sangat geram melihat kehidupan para bangsawan Mataram yang telah menjadi kaki tangan Belanda. Beliau marah karena melihat budaya barat yang memyebabkan kemorosatan akhlak masyarakat Jawa.

Pada tahun 1825, kemarahan Pangeran Diponegoro semakin memuncak ketika Belanda hendak membangun jalan baru dari Yogyakarta ke Magelang melalui Tegalrejo dan melalui tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro. Akhirnya, pecahlah Perang Diponegoro. Perang ini berlangsung dari tahun 1825 sampai 1830. Beliau dibantu oleh Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah, dan Kyai Mojo. Pada 28 Maret 1830, dalam perundingan di Magelang. Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar. Pada 8 Januari 1855, beliau meninggal dunia di Makassar.

D. Pangeran Antasari

Pangeran Antasari
Image By : biografi-biodata-profile.blogspot.com
Pangeran Antasari berasal dari Kalimantan Selatan. Beliau memimpin Perang Banjar pada 1859. Dalam Perang Banjar, beliau dibantu oleh Pangeran Hidayat. Perang Banjar terjadi karena Belanda mengangkat Pangeran Tajidillah sebagai Sultan, padahal Pangeran Hidayat yang lebih berhak.

E. Raja Buleleng

Raja Buleleng
Image By : id.wikipedia.org
Perlawanan rakyat Bali berawal dari persengketaan antara Kerajaan Buleleng dengan Belanda mengenai hak tawan karang. Menurut hak tawan karang setiap kapal yang terdampar di pantai wilayah Kerajaan Bali akan menjadi milik Kerajaan Bali, kecuali Belanda mau membayar setiap kapal yang kandas. Pada tahun 1844, kapal dagang Belanda terdampar di pantai wilayah Kerajaan Buleleng. Berdasarkan hak tawan karang, kapal Belanda tersebut menjadi hak Kerajaan Buleleng. Namun, Belanda menuntut agar kapal dan isinya dikembalikan kepada Belanda. Persengketaan tersebut berujung pada Perang Puputan yang pecah pada tahun 1848.

F. Sisingamangraja XII

Sisingamangraja XII
Image By : www.kompasiana.com
Belanda menyerang Tapanuli pada tahun 1878, tetapi serangannya dapat dipatahkan oleh rakyat Tapanuli. Kemudian pada tahun 1889, pertempuran kembali berkobar dan Sisingamangraja XII bersikap bertahan. Akhirnya, pada tahun 1904, Belanda kembali menyerang. Dalam serangan tersebut, Sisingamangraja XII gugur dan dimakamkan di Tarutung.

G. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien
Image By : www.biografiku.com
Cut Nyak Dien adalah salah seorang pemimpin perlawanan rakyat aceh terhadap Belanda. Rakyat Aceh sangat gigih berjuang mengusir Belanda, dan Belanda kesulitan mematahkan serangan rakyat Aceh. Perang Aceh berlangsung dari tahun 1873-1903. Untuk mengetahui kelemahan rakyat Aceh, Belanda mengutus Snouck Hurgronye untuk menyelidiki kelemahan masyarakat Aceh. Berdasarkan hasil penyelidikan tersebut, Belanda menggunakan siasat adu domba. Caranya dengan memerangi para ulama dan mendekati para ketua adat dan kaum bangsawan. Selain Cut Nyak Dien, perlawanan rakyat Aceh juga dimpin oleh Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, dan Panglima Polim.

Baca Juga : Sejarah Kedatangan Bangsa Eropa ke Nusantara.

Sumber : Buku Fun Learning Social Science 5

Masa Penjajahan Jepang di Indonesia (Nusantara)

1. Awal Berkuasanya Jepang

Awal berkuasanya Jepang
Image By : jejaksejarah.weebly.com
Pada tahun 1939, meletuslah Perang Dunia II. Perang ini melibatkan dua kelompok negara, yaitu kelompok Sekutu yang dimotori oleh Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Belanda dengan kelompok sentral yang dimotori oleh Jerman, Jepang, dan Italia. Kedua kelompok tersebut saling menyerang. Negara yang tidak ikut perang pun merasakan akibatnya, terutama negara-negara jajahan.

Pada 7 Desember 1941, Jepang berhasil menyerang Pearl Harbour yang merupakan pangkalan perang Amerika Serikat di Pasifik. Perang besar tersebut disebut sebagai Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya, dan pada saat itu Jepang berhasil melumpuhkan kekuatan Sekutu.

Setelah berhasil melumpuhkan pangkalan perang Amerika, Jepang kemudian berusaha mengusir Belanda di Nusantara. Pada 11 Januari 1942, Jepang berhasil menguasai Pulau Tarakan di Kalimantan Timur. Kemudian, pada 1 Maret 1942, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Himamura, pasukan Jepang mendarat serentak di Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat) dan Kragan (Jawa Tengah). Pada 5 Maret 1942, Jepang berhasil menduduki Batavia. Temtara Belanda semakin terdesak, dan pada 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Penyerahan tersebut ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian di Kalijati Subang (Jawa Barat). Dalam penandatanganan tersebut, pihak Jepang diwakili oleh Jenderal Hitoshi Himamura dan pihak Belanda diwakili oleh Jenderal Ter Poorten. Sejak saat itu, Indonesia resmi dikuasai oleh Jepang.

2. Masa Pendudukan Jepang

Jepang menyerbu dan mengusir tentara Belanda dari Indonesia tentu ada tujuannya. Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang, kaya akan hasil pertanian dan memiliki jumlah penduduk yang banyak. Hal ini, dapat membantu Jepang dalam menghadapi tentara Sekutu. Adapun tujuan Jepang menguasai Indonesia, yaitu sebagai berikut.

a. Jepang memerlukan bahan mentah, seperti minyak bumi dan batu bara untuk keperluan perang.
b. Penduduk Indonesia jumlahnya banyak sehingga dapat membantu Jepang dalam bekerja.
c. Indonesia kaya akan hasil pertanian dan perkebunan.

Untuk memengaruhi masyarakat Indonesia, agar mau membantu Jepang maka Jepang melakukan berbagai cara antara lain sebagai berikut.

a. Bendera merah putih diizinkan berkibar.
b. Lagu Indonesia Raya diizinkan untuk dinyanyikan.
c. Bahasa Indonesia diizinkan digunakan sebagai bahasa pengantar.
d. Mendirikan berbagai organisasi. Adapun organisasi yang dibentuk pada zaman penjajahan Jepang, di antaranya sebagai berikut.

Penyerangan Pearl Harbor
Image By : rifqirusdirahman.blogspot.com
1) Gerakan Tiga A, merupakan organisasi pertama yang didirikan Jepang pada 29 April 1942 yang dipimpin oleh Mr. Samsudin. Isi Gerakan Tiga A yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia.
2) Majelis A'la Indonesia (MIAI) atau Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dibentuk pada 22 November 1943, dibawah pimpinan K.H Hasyim Asj'ari yang merupakan organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.
3) Putera (Pusat Tenaga Rakyat), didirikan pada 1 Maret 1942. Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
4) Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa), didirikan pada 8 Januari 1944. Organisasi ini dipimpin oleh pejabat-pejabat Jepang.

Pada masa penjajahan Jepang, kehidupan rakyat sangat menderita. Bangsa Jepang mengambil paksa semua hasil bumi termasuk hasil padi rakyat. Akibatnya terjadi kelaparan dimana-mana karena bahan makanan dan pakaian sulit didapat.

Selain itu, Jepang memberlakukan sistem kerja paksa atau romusha untuk membangun jalan, jembatan, dan lapangan udara. Mereka tidak hanya dipekerjakan di dalam negeri tetapi juga dikirim ke Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Thailand. Mereka bekerja tanpa upah dan tanpa makanan yang cukup. Meskipun Jepang hanya berkuasa selama tiga tahun di Indonesia, penderitaan bangsa Indonesia sangat besar dan berat.

Pada tahun 1943 kekuatan Jepang di Asia Pasifik mulai terdesak oleh Amerika Serikat. Jepang memerlukan tambahan tentara untuk membantunya melawan kekuatan Amerika dan Sekutunya. Hal tersebut, mendorong Jepang untuk memberikan latihan kemiliteran. Jepang berharap organisasi kemiliteran yang telah dibentuk akan dapat membantu Jepang melawan sekutu. Organisasi kemiliteran yang dibentuk Jepang, di antaranya sebagai berikut.

Barisan Pelajar Jepang
Image By : www.slideshare.net
a. Seinendan (Barisan Pemuda), beranggotakan pemuda berusia antara 14-22 tahun.
b. Keibodan (Barisan Pembantu Polisi), beranggotakan pemuda berusia 26-35 tahun.
c. Heiho (Pembantu Prajurit Jepang), anggota Heiho ditempatkan dalam kesatuan tentara Jepang sehingga bannyak dikerahkan ke medan perang.
d. Pembela Tanah Air (PETA), dibentuk pada 3 Oktober 1943. Calon perwira PETA mendapatkan pelatihan di Bogor. Tujuan didirikannya PETA adalah untuk mempertahankan wilayah masing-masing.
e. Fujinkai (Barisan Perhimpunan Wanita), Suishintai (Barisan Pelopor), Jibakutai (Barisan Berani Mati), Seinentai (Barisan Murid Sekolah dasar), Gakukotai (Barisan Murid Sekolah dan Lanjutan), dan Hizbullah (Organisasi pemuda-pemuda Islam yang dididik militer).

Baca Juga : Masa Penjajahan Belanda di Indonesia (Nusantara).

Sumber: Buku " Fun Learning Social Science 5 for Grade V Elementary School ".